Cerita ini baru saya alami. Ketika itu, saya menemani saudara yang ingin mengurus keperluan paspor karena rencana keberangkatan-nya ke sebuah Negara mengikuti ayahnya yang sudah terlebih dahulu berada disana karena dinas kantor. Pagi itu pergilah kami berdua ke Kedutaan Negara itu, kira-kira pukul 10.30 sampai ditempat. Sebelumnya memang kami sudah menelfon pihak dari kedutaan {sebut saja Bu X] tersebut untuk menanyakan apakah kami sudah dapat mengambil paspor tersebut, dan ia menjawab sudah siap. Lalu kami pun tiba di kedutaan tersebut dan disambut oleh seorang satpam dengan ramah sambil bertanya
Satpam:“Ibu*****[nama saudara saya] ya?”
Saya: “iya pak, ini****** mau ambil paspor”
Satpam: “Oh gitu, kami minta KTP atau identitas lain ya mba utk bisa masuk”
Saya: “Oh gitu, ini pak..” [sambil menyerahkan KTP saya dan saudara saya]
Dan yang terjadi, kami di biarkan menunggu di depan loket pintu masuk dan tiba-tiba satpam yang [tadinya] ramah berubah seketika menjadi acuh.
Saya: “Pak,kami ud janjian sm Bu X untuk mengambil paspor tadi”
Satpam: “Wuah klo ambil paspor itu jam 1 mba, jadi mba tunggu dulu”
Saya: “ Loh tadi saya ud telfon dan katanya bisa diambil skarang karena saudara saya ini berangkat jam 7 malam nanti dan masih banyak keperluan yang harus disiapkan”
Satpam [sambil senyam-senyum yang rasanya tidak membantu]: “Waduh, Bu X nya ga ngabarin tu mba, biasanya kalo uda janji dia pasti ngabarin ke depan”
Dan saya melihat bapak petugas yang didalam loket pintu masuk itu [sok] cuek dan ingin membuat kesan “tidak bisa diganggu gugat”. Saya berpikir, kalo Bu X-nya blum menghubungi pihak loket, kenapa bukan pihak loketnya saja yang menghubungi orang dalam untuk menyampaikan kalo ada tamu di depan. Saya mencoba menelfon Bu X via HP dan selalu sibuk. Petugas di dalam pun saya rasa tidak terlalu ramah. Sampai akhirnya kami berhasil menghubungi Bu X dan dipersilahkan masuk ke dalam.(setelah dibiarkan menunggu cukup lama mengingat kami msh harus mengurus banyak hal). Kami segera ambil paspor dan bergegas keluar (proses tidak sampai 10 menit). Tiba di loket untuk mengambil kembali KTP kami, petugas loket [lagi-lagi] tidak berlaku sopan dengan menyodorkan KTP lewat laci agak sedikit dihentak. Karena saya pun sudah agak “naik darah” melihat tingkah laku petugas2 ini, saya hentakkan kembali laci tersebut. Sampai di luar, si satpam itu ngmg..
Satpam: “Kok cepet mba? Paspor diplomat ya”
Saya: “Ya iyalah, paspor diplomat”
Lalu tiba-tiba dia ngmg sesuatu yang membuat saya [sangat] malas untuk mendengarnya..
Satpam: “OH, KIRAIN ORANG BIASA”
Saya berpikir,loh lalu kenapa kalo orang biasa? Saya juga orang biasa, bapak pun saya rasa juga orang biasa. Apa kalo spt ini hanya orang2 diplomat atau orang2 berjabatan saja yang pantas dilayani dengan baik dan mengacuhkan “orang-orang biasa” yang tentu saja juga memiliki kepentingan dengan pihak kedutaan..
Saya ga tau apakah seluruh petugas kedutaan memang dilatih spt itu “untuk acuh dalam hal pelayanan terhadap orang2 biasa” atau apa? Saya sendiri masih bingung..[dan malas, tentunya]
4 comments:
aduuhh nih crita.loe mendingan demo taz..anti satpam2 acuh d kdutaan.
klo inget hari itu bner2 sial ya. dah gtu panasa pulaaa. i can understand why u had a very high blood pressure.
Sebenernya mungkin satpam di kedutaan itu "dilatih" oleh kehidupan untuk ramah pada yang "memberi"...if you know what i mean...dan yang dimaksud orang biasa itu adalah orang yang tidak "memberi", dan orang biasa bisa langsung berubah jadi "tidak biasa" setelah "memberi"...
Begitulah bu, kebanyakan orang Indonesia itu pamrihnya tinggi hehehehe.....
Tapi sebenernya Tasha bukan orang dengan high blood pressure kok..
I know her well, she just can't sit down & do nothing when something wrong happens.. :)
thank you huney..thats sweet :)
Post a Comment